Pengaruh budaya barat begitu kental mewarnai segala aspek kehidupan. Moderenisasi pun seperti mainan bongkar pasang yang perlahan telah mengubah pola hidup, dan cara berpikir masyarakat urban. Begitu pula dengan dunia hiburan malam di kota besar yang semakin menjamur, seakan tak pernah mati dan selalu menyimpan berjuta kisah tersendiri.
Fenomena hiburan malam sudah menjadi gaya hidup masyarakat kota besar yang haus akan kesenangan. Banyak klub, diskotik, atau kafe-kafe selalu memberikan nilai plus minus kehidupan bagi penikmatnya
Bicara mengenai kehidupan malam, tentu tak bisa lepas dari profesi seorang Disc Jockey (DJ). DJ juga tergolong musisi, punya popularitas, fans, bahkan bisa mendapatkan penghasilan pula. Keahlian ”menyulap” lagu lewat turntable, sering memberikan atmosfir tersendiri di setiap acara clubbing.
Umumnya, Prime time dimulai sejak pukul sebelas malam hingga menjelang pukul tiga dini hari. Clubbers selalu menunggu setiap hentakan musik yang keluar dari CD hasil kreatifitas DJ. Dentuman-dentuman musik memacu detak jantung semakin kencang.
Kalau sudah begini, emosi clubbers seolah tak terkendali. Ada saja tingkah laku para clubbers meluapkan emosinya saat menikmati alunan musik, apalagi jika sudah dipengaruhi minuman beralkohol. Berjingkrak-jingkrak di atas dance floor, bahkan tak jarang di antara mereka silih berganti saling menggoda dengan liukkan erotis dalam balutan busana seksi. Suasana fun jelas tampak di wajah para clubbers.
.
Entertain
Menghibur! Itulah yang menjadi tanggung jawab seorang DJ untuk menghidupkan suasana hiburan malam di klub. ”Senang saja bisa menghibur orang secara tidak langsung sebagai entertainer. Kalau sudah main, beban yang ada hilang seketika,” ungkap DJ yang biasa disapa YY ini saat dijumpai Health n Tourism di X2 salah satu tempat Clubbing ternama di Jakarta.DJ yang mengusung genre klasik ini melihat perkembangan dunia malam sekarang ini lebih hidup. ”Crowd sekarang lebih ngerti dibandingkan jaman dulu. Sekarang Crowd lebih mengikuti perkembangan musik yang ada,” jelas DJ YY yang mengaku awalnya hanya mencoba-cobaterhadap profesi DJ.
”Memang, untuk menjadi seorang DJ tidak mudah. Namun demikian bila semuanya dijalani dengan sepenuh hati dan keyakinan niscaya akan menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. Kalau dulu DJ sekadar hobi, sekarang DJ itu salah satu profesi yang bisa menghasilkan,” jelas DJ Cello dari X2 pula. Lebih jauh DJ yang gemar mengoleksi piringan hitam klasik tahun 70-an dan bergenre House Music ini, menceritakan soal penghasilan yang bisa didapatkan seorang DJ. ”Perdua jam seorang DJ bisa mengantongi uang sekitar 1 sampai 2 juta rupiah.”
Dengan penghasilan sebesar itu tentu saja sangat menyenangkan. Tapi sebenarnya bukan uang semata yang mendatangkan kesenangan. Ia senang menjadi DJ karena dapat bertemu dengan banyak orang setiap hari. Dan, tak jarang pula dari obrolan akan muncul ide-ide untuk menciptakan peluang bisnis.
Sementara itu DJ Dimaz yang bergenre Hip Hop menceritakan pengalaman yang sempat menciutkan nyalinya. ”Saya pernah ditimpuki dengan pop corn oleh clubbers saat sedang main karena listrik padam secara tiba-tiba,” cerita Dimaz sambil tertawa. Dari profesinya sebagai DJ, Dimaz bersyukur hampir semua kebutuhannya sudah bisa terpenuhi. ES
Written & Photo : Erik Sanjaya for Health n Tourism Magz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar